Jurnal Sastra Kebumen
Mendokumentasi Karya bagi Masyarakat Apresian Indonesia
Kamis, 15 September 2011
Perjalanan ke Tinggarjaya
Kamis, 25 Agustus 2011
Undangan
Jumat, 19 Agustus 2011
Menghadirkan Pentas Dekat Ke Teras
Pasi bulan menyapukan cahya ke latar tiga rumah di tengah kampung itu, di akhir pekan yang syahdu. Suasana ini mengingatkan malam padhang-mbulan dengan taste komunal pedesaan agraris di masa lalu. Dan tetabuhan di lengking gesek dawai biola menandai pentas teater di sebuah desa satelit Kebumen utara. Purnama beranjak dengan halimun tipis. Namun nyata bahwa nyala yang lebih terang dan hangat memancar jadi “ghirah” malam bermain peran.
Di situlah digelar kiprah Remaja Mushola “Miftakhul Huda” Dukuh Kewangen, Desa Karangsari; kawasan hulu kota penyelia mobilitas tenaga produktif. Kalangan muda yang berhimpun dalam Sanggar Jasmin dan tak gamang memilih proses berteater sebagai media berekspresi. Pementasan perdana Teater Gesang bertajuk “Hidayah Sahur” berasa syiar dengan moda yang berbeda; mengambil pilihan arena di luar payung kubah mushala.
Dan puluhan warga sekitar pun memadamkan layar kaca di ruang muka. Datang merubung dan mengepung, seakan tak mau menjadi bagian yang terpisah dari panggung. Intens dan santai namun menyatukan henyak hingga usai. Simak apa yang menarik dari hajat berkesenian ini adalah kesahajaan yang intim, menghadirkan pentas dekat ke sisi teras.
Teater Ego: Yang Telah Rentan dan Beruban
Mengisi perempat malam berikutnya digelarlah pementasan naskah Putut AS yang ia tulis pada sekitar tiga tahun silam. Penyutradaraan yang diasistensi oleh Mukhlis dan Eva pada dasarnya sedikit banyak berhasil mengangkat realita kekinian namun yang terjadi pada sengkarut relasi sosial yang bentuknya makin menua. Dukungan lima aktor, Sita, Novi, Idol, Bambang dan Syahid Elkobar, membumikan wilayah (budaya) abu-abu para pangreh-prajan ke muka para kawula. Meski Putut AS menyebut pementasannya sebagai menghadirkan mozaik kehidupan, atau bahkan eksperimen tanpa tawaran solutif, namun alurnya membaui sirat kebusukan. Sebagaimana “bunyi” naskahnya; kerentanan sosial.
Peradaban seperti tengah terbentuk oleh nilai-nilai yang bias. Distorsi terjadi karena nafsu untuk melanggengkan kepentingan diri, sectarian, tak perduli harus dengan menempuh cara hasut. Malam itu, semesta desa seakan diajak untuk merangkai petilan-petilan yang tercerai. Inilah wajah “kota”, modernitas yang diimpikan bersama. Peradaban yang nyaris tersungkur, wajahnya mengabur, batoknya mengapur; dualisme kepala. Uban kita, borok kota. Bias peradaban menumbuhkan phobia sosial dengan subur. Dalam fase lanjut, nilai kemanusian terdera dan tumbuh dalam belahan yang menjelma jadi beragam sekte-sekte. Pluralisme bukan lagi dimaknai kebersamaan yang dipenuhi toleransi dan tepa-slira. Tetapi telah berubah menjadi kecurigaan, posesif dan gemar menjustivikasi kesalahan liyan.
Politisi dan pangreh-prajan tak beda wataknya. Perilaku korup bukan saja dilanggengkan, tapi diregenerasikan. Kaderisasi dalam budaya cloning telah mengarah pada perspektif baru yang salah-kaprah. Dan yang melawan arus, jadi layak diberangus.
Pementasan kampung Teater Ego yang mengusung lakon Yang Telah Rentan dan Beruban (Putut AS, 2008) jadi bukan saja sugih pasemon, tapi juga cukup banyak penonton.
# Kebumen, 12 Agustus 2011 | Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150269014498046
Sabtu, 23 Juli 2011
Selamat Datang di Jurnal Sastra Kebumen
Upaya yang paling mungkin buat dilakukan, tetapi sayang buat dibiarkan berlalu. Adalah bagaimana -setidaknya- mencatat atau mendokumentasikan karya para penulis, karya para sastrawan dan pekerja berkesenian lainnya; yang ada di "daerah" ini.
Mengimani bahwa di "daerah" ini, pedalaman yang bukan pusat-pusat budaya ini, ada ghirah, ada greget. Bahkan boleh jadi, sesungguhnya, setiap orang, seutuhnya, merupakan bagian langsung yang mengisi kantung-kantung, mewarnai lumbung-lumbung. Yang pada muara zamannya menjadi pelaku perubahan; peradaban.
Pada era 70-an di Kebumen terdapat kebiasaan dimana ratusan orang menulis puisi, dan ribuan lainnya menyimaknya. Tradisi penulisan puisi, dan bahkan juga cerpen atau karya prosa lain telah diretas sejak lebih dari 20-an tahun lalu. Waktu itu, acara sastra puisi ini menjadi salah satu program dengan rating tinggi di sebuah radio pemda; yakni RSPD Indrakila. Karya puisi dibacakan melalui media siar radio bergelombang medium-wave karena masih langka radio FM. Acara ini berlangsung hingga puluhan tahun dan melampaui satu dekade, serta selalu marak dengan tradisi penulisan dan pembacaan karya, terutama puisi.
Mungkinkah semua itu dijadikan tradisi dengan sentuhan terbarukan dalam konteks dan situasi kekinian? Tanya ini terendam dalam perenungan, panjang dan menghanyut.
Tetapi pada kenyataannya, banyak orang selalu menulis; di manapun dan setiap harinya. Popularitas sastra radio di masa lalu menginspirasi keinginan untuk membuka ruang-ruang, mengurai kekusutan dan membentangkan peluang bagi sebuah atau berbagai kemanfaatan.
Semoga menginspirasi anda untuk memulai menulis, dan mengirimnya ke:
Jurnal Sastra Kebumen
email: koranbumen@gmail.com
dan akan dimuat di http://www.jurnalsastrakebumen.blogspot.com
