Kamis, 15 September 2011

Perjalanan ke Tinggarjaya

Klip perjalanan 
Tim Publishing Buku Antologi Puisi Kebumen ke Tinggarjaya, bertemu Novelis AHMAD TOHARI di Gubuk Penginyongan, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas (14/9)

Kamis, 25 Agustus 2011

Undangan

Cangkrukan Sastra: ”WEDHUS IRENG NGLUDRUK”

PENDAHULUAN
DALAM RANGKA memperingati Hari Literasi Internasional, Pena Ananda Club didukung oleh Ikatan Pustakawan Indonesia Kabupaten Tulungagung, Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung, Teater Klik, dan komunitas literasi dan sastra sekabupaten Tulungagung akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan sehari dalam bentuk CANGKRUKAN SASTRA. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin Pena Ananda Club, dan dalam momentum ini akan diramaikan juga dengan partisipasi jejaring literasi dan sastra dari luar kabupaten Tulungagung, sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian dalam mengembangkan literasi lokal.

TUJUAN
1. MENGAMPANYEKAN LITERASI untuk membangkitkan, meningkatkan dan mengembangkan minat dan budaya membaca dan menulis pada masyarakat.
2. MENYOSIALISASIKAN CANGKRUKAN SASTRA sebagai kegiatan terbuka bagi peminat sastra dan masyarakat untuk belajar literasi dan sastra untuk meningkatkan apresisai terhadap literasi (secara umum) dan sastra (secara khusus).
3. MEMUBLIKASIKAN KARYA penulis, seniman dan budayawan lokal dalam sebuah lingkup gerakan literasi lokal.

TEMA KEGIATAN
”WEDHUS IRENG NGLUDRUK” dijadikan tema kegiatan CANGKRUKAN SASTRA di Hari Literasi Internasional ini. Tema ini mengangkat pesan utama terhadap perlunya membangun karakter bangsa terutama nilai kejujuran terhadap kebenaran dengan segala konsekuensinya.

PELAKSANAAN KEGIATAN
Hari/tanggal : Minggu, 11 September 2011
Waktu : 06.00 – 10.00 wib
Tempat : Seputaran Patung Garuda
Lapangan Rejoagung, Tulungagung

BENTUK KEGIATAN
1. KELONTONG BUKU KITA yang mempromosikan dan menjual buku-buku karya penulis dan penerbit lokal (Tulungagung) dan jejaring penggerak literasi lokal yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

2. PERPUSTAKAAN KELILING (Perpustakaan Kabupaten Tulungagung) yang menyediakan buku-buku bacaan bagi semua pengunjung lapangan untuk dibaca di tempat selama kegiatan berlangsung.

3. PAMERAN LUKISAN terutama lukisan-lukisan yang sesuai dengan tema kegiatan dari pelukis-pelukis Tulungagung.

4. ORASI LITERASI sebagai verbalisasi kegiatan Hari Literasi Internasional, sehingga pokok-pokok pikiran tentang tujuan dan pentingnya gerakan literasi lokal untuk kekuatan literasi nasional tersampaikan ke masyarakat, sehingga gerakan ini menjadi gerakan bersama demi kemajuan bangsa dan peradaban manusia.

5. PERTUNJUKAN KARYA DAN SENI yang akan diisi dengan reportoar pendek, musikalisasi puisi, perkusi, monolog, pembacaan puisi/cerpen/esai, dan dialog literasi.
Partisipan:
a. Pena Ananda Club: Siwi Sang, es hadi, Zakyzahra Tuga.
b. Perkusi: PeCe
c. Teater Klik (@Trias Untung K.) dengan judul: "ngenthit"
d. Perwakilan Pelajar, Mahasiswa dan Masyarakat.
e. Komunitas literasi dan sastra kabupaten/kota lain.

6.PETIK BUAH DAN SANTAP (PUISI) yaitu menyediakan puisi-puisi yang siap untuk di’petik’, dibaca dan dibawa pulang oleh para pengunjung.
Pengunjung:
1. Pengunjung rutin lapangan Rejoagung (setiap hari Minggu).
2. Pelajar dan Mahasiswa.
3. Masyarakat sastra dan seni dari beberapa daerah sekitar Tulungagung.

Keterangan:
Gambar untuk sementara diambil dari:
http://jakatriyana.blogdetik.com/index.php/2009/03/26/kambing-hitam-scapegoat-wedhus-ireng-wedus-ireng/

Jumat, 19 Agustus 2011

Menghadirkan Pentas Dekat Ke Teras

Pasi bulan menyapukan cahya ke latar tiga rumah di tengah kampung itu, di akhir pekan yang syahdu. Suasana ini mengingatkan malam padhang-mbulan dengan taste komunal pedesaan agraris di masa lalu. Dan tetabuhan di lengking gesek dawai biola menandai pentas teater di sebuah desa satelit Kebumen utara. Purnama beranjak dengan halimun tipis. Namun nyata bahwa nyala yang lebih terang dan hangat memancar jadi “ghirah” malam bermain peran.

Di situlah digelar kiprah Remaja Mushola “Miftakhul Huda” Dukuh Kewangen, Desa Karangsari; kawasan hulu kota penyelia mobilitas tenaga produktif. Kalangan muda yang berhimpun dalam Sanggar Jasmin dan tak gamang memilih proses berteater sebagai media berekspresi. Pementasan perdana Teater Gesang bertajuk “Hidayah Sahur” berasa syiar dengan moda yang berbeda; mengambil pilihan arena di luar payung kubah mushala.

Dan puluhan warga sekitar pun memadamkan layar kaca di ruang muka. Datang merubung dan mengepung, seakan tak mau menjadi bagian yang terpisah dari panggung. Intens dan santai namun menyatukan henyak hingga usai. Simak apa yang menarik dari hajat berkesenian ini adalah kesahajaan yang intim, menghadirkan pentas dekat ke sisi teras.

Teater Ego: Yang Telah Rentan dan Beruban

Mengisi perempat malam berikutnya digelarlah pementasan naskah Putut AS yang ia tulis pada sekitar tiga tahun silam. Penyutradaraan yang diasistensi oleh Mukhlis dan Eva pada dasarnya sedikit banyak berhasil mengangkat realita kekinian namun yang terjadi pada sengkarut relasi sosial yang bentuknya makin menua. Dukungan lima aktor, Sita, Novi, Idol, Bambang dan Syahid Elkobar, membumikan wilayah (budaya) abu-abu para pangreh-prajan ke muka para kawula. Meski Putut AS menyebut pementasannya sebagai menghadirkan mozaik kehidupan, atau bahkan eksperimen tanpa tawaran solutif, namun alurnya membaui sirat kebusukan. Sebagaimana “bunyi” naskahnya; kerentanan sosial.

Peradaban seperti tengah terbentuk oleh nilai-nilai yang bias. Distorsi terjadi karena nafsu untuk melanggengkan kepentingan diri, sectarian, tak perduli harus dengan menempuh cara hasut. Malam itu, semesta desa seakan diajak untuk merangkai petilan-petilan yang tercerai. Inilah wajah “kota”, modernitas yang diimpikan bersama. Peradaban yang nyaris tersungkur, wajahnya mengabur, batoknya mengapur; dualisme kepala. Uban kita, borok kota. Bias peradaban menumbuhkan phobia sosial dengan subur. Dalam fase lanjut, nilai kemanusian terdera dan tumbuh dalam belahan yang menjelma jadi beragam sekte-sekte. Pluralisme bukan lagi dimaknai kebersamaan yang dipenuhi toleransi dan tepa-slira. Tetapi telah berubah menjadi kecurigaan, posesif dan gemar menjustivikasi kesalahan liyan.

Politisi dan pangreh-prajan tak beda wataknya. Perilaku korup bukan saja dilanggengkan, tapi diregenerasikan. Kaderisasi dalam budaya cloning telah mengarah pada perspektif baru yang salah-kaprah. Dan yang melawan arus, jadi layak diberangus.

Pementasan kampung Teater Ego yang mengusung lakon Yang Telah Rentan dan Beruban (Putut AS, 2008) jadi bukan saja sugih pasemon, tapi juga cukup banyak penonton.

# Kebumen, 12 Agustus 2011 | Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150269014498046


Sabtu, 23 Juli 2011

Selamat Datang di Jurnal Sastra Kebumen

Selamat Datang di Jurnal Sastra Kebumen.
Upaya yang paling mungkin buat dilakukan, tetapi sayang buat dibiarkan berlalu. Adalah bagaimana -setidaknya- mencatat atau mendokumentasikan karya para penulis, karya para sastrawan dan pekerja berkesenian lainnya; yang ada di "daerah" ini.
Mengimani bahwa di "daerah" ini, pedalaman yang bukan pusat-pusat budaya ini, ada
ghirah, ada greget. Bahkan boleh jadi, sesungguhnya, setiap orang, seutuhnya, merupakan bagian langsung yang mengisi kantung-kantung, mewarnai lumbung-lumbung. Yang pada muara zamannya menjadi pelaku perubahan; peradaban.

Prolog

Pada era 70-an di Kebumen terdapat kebiasaan dimana ratusan orang menulis puisi, dan ribuan lainnya menyimaknya. Tradisi penulisan puisi, dan bahkan juga cerpen atau karya prosa lain telah diretas sejak lebih dari 20-an tahun lalu. Waktu itu, acara sastra puisi ini menjadi salah satu program dengan rating tinggi di sebuah radio pemda; yakni RSPD Indrakila. Karya puisi dibacakan melalui media siar radio bergelombang medium-wave karena masih langka radio FM. Acara ini berlangsung hingga puluhan tahun dan melampaui satu dekade, serta selalu marak dengan tradisi penulisan dan pembacaan karya, terutama puisi.

Mungkinkah semua itu dijadikan tradisi dengan sentuhan terbarukan dalam konteks dan situasi kekinian? Tanya ini terendam dalam perenungan, panjang dan menghanyut.
Tetapi pada kenyataannya, banyak orang selalu menulis; di manapun dan setiap harinya. Popularitas sastra radio di masa lalu menginspirasi keinginan untuk membuka ruang-ruang, mengurai kekusutan dan membentangkan peluang bagi sebuah atau berbagai kemanfaatan.
Semoga menginspirasi anda untuk memulai menulis, dan mengirimnya ke:

Jurnal Sastra Kebumen

email: koranbumen@gmail.com


dan akan dimuat di http://www.jurnalsastrakebumen.blogspot.com


ws rendra: SAJAK BURUNG-BURUNG KONDOR