Selamat Datang di Jurnal Sastra Kebumen.
Upaya yang paling mungkin buat dilakukan, tetapi sayang buat dibiarkan berlalu. Adalah bagaimana -setidaknya- mencatat atau mendokumentasikan karya para penulis, karya para sastrawan dan pekerja berkesenian lainnya; yang ada di "daerah" ini.
Mengimani bahwa di "daerah" ini, pedalaman yang bukan pusat-pusat budaya ini, ada ghirah, ada greget. Bahkan boleh jadi, sesungguhnya, setiap orang, seutuhnya, merupakan bagian langsung yang mengisi kantung-kantung, mewarnai lumbung-lumbung. Yang pada muara zamannya menjadi pelaku perubahan; peradaban.
Upaya yang paling mungkin buat dilakukan, tetapi sayang buat dibiarkan berlalu. Adalah bagaimana -setidaknya- mencatat atau mendokumentasikan karya para penulis, karya para sastrawan dan pekerja berkesenian lainnya; yang ada di "daerah" ini.
Mengimani bahwa di "daerah" ini, pedalaman yang bukan pusat-pusat budaya ini, ada ghirah, ada greget. Bahkan boleh jadi, sesungguhnya, setiap orang, seutuhnya, merupakan bagian langsung yang mengisi kantung-kantung, mewarnai lumbung-lumbung. Yang pada muara zamannya menjadi pelaku perubahan; peradaban.
Prolog
Pada era 70-an di Kebumen terdapat kebiasaan dimana ratusan orang menulis puisi, dan ribuan lainnya menyimaknya. Tradisi penulisan puisi, dan bahkan juga cerpen atau karya prosa lain telah diretas sejak lebih dari 20-an tahun lalu. Waktu itu, acara sastra puisi ini menjadi salah satu program dengan rating tinggi di sebuah radio pemda; yakni RSPD Indrakila. Karya puisi dibacakan melalui media siar radio bergelombang medium-wave karena masih langka radio FM. Acara ini berlangsung hingga puluhan tahun dan melampaui satu dekade, serta selalu marak dengan tradisi penulisan dan pembacaan karya, terutama puisi.
Mungkinkah semua itu dijadikan tradisi dengan sentuhan terbarukan dalam konteks dan situasi kekinian? Tanya ini terendam dalam perenungan, panjang dan menghanyut.
Tetapi pada kenyataannya, banyak orang selalu menulis; di manapun dan setiap harinya. Popularitas sastra radio di masa lalu menginspirasi keinginan untuk membuka ruang-ruang, mengurai kekusutan dan membentangkan peluang bagi sebuah atau berbagai kemanfaatan.
Semoga menginspirasi anda untuk memulai menulis, dan mengirimnya ke:
Jurnal Sastra Kebumen
email: koranbumen@gmail.com
dan akan dimuat di http://www.jurnalsastrakebumen.blogspot.com
Pada era 70-an di Kebumen terdapat kebiasaan dimana ratusan orang menulis puisi, dan ribuan lainnya menyimaknya. Tradisi penulisan puisi, dan bahkan juga cerpen atau karya prosa lain telah diretas sejak lebih dari 20-an tahun lalu. Waktu itu, acara sastra puisi ini menjadi salah satu program dengan rating tinggi di sebuah radio pemda; yakni RSPD Indrakila. Karya puisi dibacakan melalui media siar radio bergelombang medium-wave karena masih langka radio FM. Acara ini berlangsung hingga puluhan tahun dan melampaui satu dekade, serta selalu marak dengan tradisi penulisan dan pembacaan karya, terutama puisi.
Mungkinkah semua itu dijadikan tradisi dengan sentuhan terbarukan dalam konteks dan situasi kekinian? Tanya ini terendam dalam perenungan, panjang dan menghanyut.
Tetapi pada kenyataannya, banyak orang selalu menulis; di manapun dan setiap harinya. Popularitas sastra radio di masa lalu menginspirasi keinginan untuk membuka ruang-ruang, mengurai kekusutan dan membentangkan peluang bagi sebuah atau berbagai kemanfaatan.
Semoga menginspirasi anda untuk memulai menulis, dan mengirimnya ke:
Jurnal Sastra Kebumen
email: koranbumen@gmail.com
dan akan dimuat di http://www.jurnalsastrakebumen.blogspot.com
adalah suatu yang indah manakala
BalasHapuskembali anak2 negri kebumen
mengunduh kembali semangat dalam berkarya
karya2 sastra yang syarat makna
makna hembusan dari jiwa
jiwa yang membara, membeku atopun gundah
semoga wadah ini
merajut kembali
semangat yang telah ada....
terimakasih, respon pak WarsoBumen. Pada dasarnya banyak penulis dan calon penulis di Kebumen ini. Bagaimana jika panjenengan memulai menulis dan mengirimkannya kepada kami ?
BalasHapus-Redaksi-